Puput’s Blog

February 13, 2009

cOLOR cHEcking–from DOUBUTSU URANAI

Filed under: Uncategorized — Tags: , — puput22 @ 5:45 am

Puput
22/09/1986

it's meit’s me

You are Black Tiger, who is healthy and lively woman.
Just being there, makes the atmosphere bright and cheerful.
Your sociable and kind personality makes you have lots of friends, and you are very popular.
Nevertheless, unlike your open attitude, you can be too serious and argumentative.
You possess both pure and very calculative mind.
But just as you look, you can adapt easily to circumstances, and would not do things that break the harmony of the group.
You don’t show your strain of grief, and can live life happily and cheerfully in any situation or difficulty.
Your strong mentality acts as one of your strength to make your ideals come true.
Because of this, you can be rather obstinate to stick to the plans you have made.
You have a brilliant mind and high intelligence and can make decisions logically and calmly.
Your attitudes and preferences seem to be straightforwardly huge, people may think you extravagant.
But although you seek extravagance in atmosphere, economically you are very thrifty.
You are suited to occupations like lawyers and police women, which can use your sense of justice to its maximum.
But you are very tough and can pour all your energy into anything you end up doing.
After marring, you will put your natural motherly instinct to bring up a warm family.
But your sociability keeps many people like you to carry on working.

February 11, 2009

Starbucks oh Starbucks, the Best Example of Experiential Marketing

The Ndeso goes to Starbucks…Itu kali yah tema yang pas untuk menggambarkan insiden ketika gw dan cumumu “bertandang” ke Starbucks, sebuah kedai kopi mumpuni yg terkenal di seluruh negeri.

Jujur, kita berdua tuh sama sekali belum pernah ke Starbucks sebelumnya. Kalo gw sih jelas alasannya karena “sayang duit man, masak untuk segelas kopi aja gw harus mengeluarkan 30ribu sih?” Well, gw emang tipe konsumen yang memperhatikan banget value for money, jadi gw pengen mengeluarkan uang yg menurut gw sebanding dengan bukan hanya dengan manfaat atau core benefit nya, tapi gw juga sebagai konsumen mengharapkan ada value added di samping itu.

Soo...tempting..

Soo...tempting..

Tapiiiii…dikarenakan oleh lokasi Starbucks yang tepat berada di lantai dasar gedung tempat gw berkantor sekarang, akhirnya godaan untuk merasakan experience minum di Starbuck pun datang. (Secara setiap pagi, gw pasti melewati kedai kopi terkenal itu.). Akhirnya suatu pagi, gw berencana untuk mampir ke sana sama si Cumumu untuk merasakan experience “ngopi-pagi-pagi-santai dan berkelas” disana.

Skenario 1: Sayup-sayup suara musik jazz yang terdengar dari dalam udah semakin menggoda iman kita untuk mampir kesana

Skenario 2: Akhirnya kita berdua pun nggak tahan dan menetapkan niat untuk benar-benar melaksanakan rencana kita untuk mampir kesana.

Skenario 3: Sampai depan kasir, plenga-plengo, bingung, “pesen apa yah?” “kok harganya mahal semua?”. (Udah tahu sih mahal, tapi tetap aja takjub ngeliat deretan daftar harga yang tertera, yg menurut kita kok nggak sebanding sama apa yang didapatkan).

Skenario 4: Mulai gelisah, ragu-ragu dan lirak-lirik. Sampai akhirnya pupil mata gw menemukan tulisan: “Expresso Macchiatto” – 17ribu. “Wah, itu yang paling murah” gw teriak kegirangan. (Yah, emang sih gw pernah dibeliin starbucks sama kantor waktu itu, tapi kan yang beliin OB nya, gw cuman mengamini aja, waktu itu dibeliin Caramel Macchiatto kalo nggak salah). Tapi begitu liat ada yg lebih murah, gw langsung heboh. “Pi, beli yg itu aja”…

Skenario 5: Pesanan kita, “Expresso Macchiatto” datang

Skenario 6: Terkejut, hampir pingsan malah. ”Haaahhh,,, kok gelasnya kecil mungil tiny winy bity banget yah?”. Asli, gw dan si cumumu terkejut 180 derajat. “Nih, kagak salah nih, bayar 17 ribu gelasnya kecil kayak gelas bayi gini doang?” Mayday, mayday, telah terjadi service gap disini. — Service Gap terjadi ketika expected value (apa yang konsumer harapkan) tidak sesuai dengan perceived value.

Skenario 7: Pasrah, dan akhirnya membawa pesanan kita ke sofa-coklat-yang-kelihatan nyaman yg telah disiapkan disana.

Skenario 8: Pas nyicipin kopinya, hueeekkk…ternyata pahit banget jo

Skenario 9: Pasrah, dan pura-pura menikmati kopi sambil ngobrol-ngobrol santai dan baca-baca majalah yang disediakan

Skenario 10: Menyesali nasib.

Wah, pasti yang baca tulisan gw sampe sini langsung tertawa termehek-mehek dan mereka yang udah sering “ngupi-ngupi” di starbucks pasti bilang: “dodol banget sih nih anak, udah tahu namanya expresso, ya pasti pahit lah…” Well, I’m sorry, but I really don’t know about this, and if knew this before, I won’t order it, for sure..(sighs)..

Nasi udah jadi mie ayam, “insiden starbucks” gw emang udah nggak bisa dirubah lagi. Tapi, bukan berarti hal itu jadi merubah image gw tentang Starbucks yang menurut gw adalah salah satu kedai kopi yg punya brand positioning yang udah kuat banget, punya kesan elegan, gaul, untuk socialite, dan bergengsi. Karena menurut gw, itu adalah karena kesalahan gw sebagai konsumen. Intinya, akhirnya gw bisa juga merasakan pengalaman untuk ngopi-ngopi di kedai franchise ternama ini. Gw bisa juga merasakan prestise karena bisa berada disana, menikmati suasana pagi yang classy, nyaman, dan menenangkan bersama Cumumu dan ditemani oleh musik-musik jazzy yg relaxing. Emang bener, ambience disana emang enak banget dan menyadarkan gw bahwa orang-orang marketing emang nggak salah kalo bilang bahwa Starbucks adalah the Best Example of Experiental Marketing.

Untuk yang belum tahu apa itu experiental marketing, bacalah penjelasan di bawah ini:

“Experiential marketing is a commercial strategy that sometimes complements or even replaces conventional media/print marketing. It attempts to captivate all five senses (touch, taste, smell, sight, sound) to form a comprehensive and memorable experience”

Tujuannya adalah di bawah ini:
“The purpose of experiential marketing is to foster a connection between the individual and the brand. Experiential marketing creates feelings and emotions. People do not purchase simply because they need the good, but rather to feel the experience of using the product”Jadi pada dasarnya, orang datang ke Starbucks dan rela untuk membayar sampai puluhan ribu untuk secangkir kopi itu bukan hanya untuk mendapatkan produknya (kopi), tapi juga untuk merasakan pengalaman ketika meminum kopi tersebut. Not only for buying a cup of coffee, but also to buy the experience, buy the services, buy the relaxing ambience, buy the prestige feelings, buy the cozy and comfortable sofa, and also buy the smile and hospitality from the barrista. Dan karena itulah, para konsumen biasanya balik lagi ke tempat mereka dan akhirnya jadi customer loyal.

Unfortunately, their strategy isn’t work for a type of customer like me. Karena gw pikir, “pay for 30rb only for a cup of coffee isn’t worth it at all”. I can pay for another more valuable things with that amount of money. Emang sih, gw bisa merasakan hal-hal yg gw tulis di paragraph sebelumnya, yaitu misalnya keramahan pelayanan dan tempat yg nyaman. Tapi bagi gw, kalo misalnya gw minum kopi di dunkin donat ataupun di kedai kopi kecil di belakang kantor gw itu juga udah nyaman kok. I don’t really need those premium services and prestige feelings to indulge my self. Yang menjadi titik tolak ukur bagi gw adalah lebih ke kualitas produknya. Walaupun memang sih, cara berpikir gw yg seperti ini nggak berlaku di semua produk. Karena kalo menurut gw, bayar mahal hanya untuk minum kopi itu bisa aja nggak worth it, tapi kalo bayar rada mahal untuk “having a dinner in such a cozy and romantic place surrounded by the view of the mountain” itu mungkin gw mau. Karena menurut gw, disana gw bisa mendapatkan suasana yg “lebih” dibanding hanya terkungkung dalam sebuah kedai berukuran medium hanya untuk menikmati secangkir kopi.

Nggak setuju yah? = p

February 4, 2009

Komitmen: Sebuah Belenggu atau Sebuah Wujud Tanggung Jawab?

Janji menjemput, janji menemani, janji makan malam, janji jalan-jalan, janji memenuhi klausul kontrak, janji membayar utang, janji memberi piutang, janji kawin bahkan janji sehidup-sematipun (apalagi yang terakhir ini) semuanya hanya janji. Tidak ada yang pernah tahu apa yang akan terjadi dan bagaimana untuk memenuhinya nanti. Semuanya hanya upaya untuk menyuntikkan semacam obat bius lokal pada tubuh yang kesakitan akibat ‘tergores’ oleh ketidakpastian agar tidak terlalu terasa sakitnya, perihnya. (Prolog Marcell Siahaan dalam salah satu postingan di blog pribadinya)

Kemarin pagi tiba-tiba si bencek, sahabat gw yg berdomosili di Surabaya, meng-sms gw dan nanya:
Bencek: “Put, kamu setuju nggak dengan pernyataan: Feelings gone in a year, what left is a commitment.” Suddenly, it has surprised me up. Gw pikir, kenapa sih nih anak, tiba-tiba kok nanya gini?
Trus gw jawab: “Ya kalo menurut gw sih itu hanyalah sebuah pernyataan dari seseorang yg mengalami kegagalan dalam hubungannya. Coba aja kamu lihat pasangan Widyawati-Sophan Sophian kan, toh mereka tetep bisa menjaga hubungan cinta mereka sampai akhir hayat.”

Commitment? R u ready?Commitment? R u ready?

Tapi setelah itu gw pikir, yah, kasus Sophan-Widyawati itu kan mungkin hanya secuplik aja dari setumpuk gunung es kisah rumah tangga yang berakhir bahagia. Banyak juga dari mereka yang akhirnya tetap bertahan di pernikahannya hanya dengan alasan “untuk menjaga komitmen” yang sudah diucapkan sebelumnya, tanpa ada perasaan cinta lagi terhadap pasangannya. Duh, ironis banget ya. Mending kayak pasangan Dewi Lestari-Marcell yang akhirnya memutuskan untuk berpisah baik-baik setelah “rasa” itu sudah tidak ada di mereka.

Kutipan pendapat Marcell yang gw tulis di atas mungkin ada benarnya juga, walaupun gw nggak sepenuhnya setuju dengan pernyataannya. Ketika kita memutuskan untuk berkomitmen, misalnya ketika kita memutuskan untuk berkomitmen untuk berpacaran, menikah, menjadi anggota organisasi tertentu, atau apapun itu, kita semestinya memang sudah tahu apa konsekuensi dari apa yang telah lakukan. Mengapa? Karena dalam komitmen itu tertera norma-norma tidak tertulis yang harus kita patuhi. Hal ini seperti buah simalakama, komitmen dapat menjadi sebuah belenggu untuk melakukan apa yang kita mau, tapi bisa juga diartikan sebagai wujud tanggung jawab kita terhadap apa yang sedang kita jalani.

Misalnya saja, ketika kita berkomitmen untuk menikah dengan seseorang. Ada norma-norma tidak tertulis di antara pasangan tersebut yang harus dipatuhi. Salah satunya adalah tidak boleh menyelingkuhi pasangannya. Masalahnya, yang namanya perasaan itu kadang nggak bisa dibendung. Terkadang, tiba-tiba kita suka ngerasa kalo adaaaa aja orang yang lebih baik dari pasangan kita, dan tergoda untuk melakukan hal yang melanggar komitmen tadi. Nah, dengan adanya komitmen, itu bisa “mengerem” kita untuk melakukan hal-hal tadi dan membawa kita kembali ke jalur yang benar. Seperti apa yang dibilang tokoh Agus sama tokoh Lani di Film “Jomblo” (gw gak pernah bosen nonton film ini walaupun udah berapa kali diputer di TV) pas si Agus mau mutusin Lani:

Agus: “Lan, aku tahu kamu tuh lebih, lebih baik, tapi kalo aku terus nyari yang lebih baik lagi, nanti suatu saat aku juga bakal ninggalin kamu.”

See, he realizes about how important to keep the commitment that he has said. Tolong ya catat itu bagi para cowok-cowok yang suka selingkuh, huh..!! =p.

Intinya, menurut gw sih, di dunia ini memang tidak ada yang pasti selain ketidakpastian itu sendiri. Kita nggak tahu kapan kita akan mati, kita nggak tahu apa yang terjadi pada kita dalam sehari, seminggu, sebulan, setahun, ataupun 20 tahun lagi. Dan menurut gw, komitmen bukan hanya upaya untuk menyuntikkan semacam obat bius lokal pada tubuh yang kesakitan akibat ‘tergores’ oleh ketidakpastian agar tidak terlalu terasa sakitnya, perihnya. Tapi komitmen adalah wujud tanggung jawab terhadap apa yang telah kita katakan dan perbuat. Komitmen adalah sarana agar kita bisa punya pedoman, pegangan yang bisa dijadikan acuan dalam hidup, dan untuk menjaga kita agar tetap berada di track yang tepat.

-puput 040209-

February 3, 2009

Breath…Just Breath…Fiuhh…

Filed under: Uncategorized — puput22 @ 2:46 am

Stres karena pekerjaan? Atau stress karena nggak dapat2 pekerjaan? Stres karena masalah percintaan, jodoh, karir, halah kok gw jadi kayak tukang ramal ya..Yowis..pokoke kalo ada yang ngerasa I’m FINE (Frustrated, Incomplete, Neurotic, Emotional), ada solusi jitu untuk menanganinya:

Solusi yang Tersedia SETIAP SAAT
Bersyukur, mengikhlaskan, berpikir positif, berperasaan positif, semua adalah konsep yang indah. Namun ketika kita sudah berada di tengah stres dan ketegangan, apakah kita semua PASTI BISA melakukan syukur, ikhlas, positivitas tersebut di SETIAP SAAT? 24 jam sehari? 7 hari seminggu? Tentu sulit sekali untuk melakukan hal-hal tersebut, dan membutuhkan barangkali proses yang tidak pendek untuk melatih ketrampilan tersebut.
Namun kita semua, setiap saat, 7 hari x 24 jam, pasti bisa melakukan hal sederhana satu ini. Bila Anda sedang membaca, pastikan bahwa Anda mengikuti instruksi berikut:
berhenti sejenak, (lebih baik pejamkan mata) hirup napas, rasakan ke dalam diri, dan hembuskan dengan lembut/panjang/rileks.
ulangi lagi beberapa kali dan amati pikiran, perasaan dan tubuh Anda sekarang

Breath..just breathe...Breath..just breathe...

Latihan sederhana ini biasanya akan menghadirkan rasa lebih tenang, lebih nyaman, lebih rileks, dan lebih lega. Dan ingat bahwa ini bisa kita lakukan kapan saja, dimana saja, tanpa perlu biaya, alat bantu, izin orang lain, maupun kondisi khusus. Sekadar berhenti, bernapas, dan AAAHHH…

Manfaat Bernapas Penuh Kesadaran
Hal pertama yang paling penting bagi saya, NAPAS mengembalikan kita pada kesadaran SINI-KINI (here-and-now). Hampir 100% masalah kita bersumber pada perhatian murni kita yang diracuni KENANGAN masa lalu (sesal, rasa bersalah, rasa menyayangkan yang sudah terlanjur, trauma, luka batin), atau KHAYALAN masa depan yang belum tentu (takut, kuatir, pesimis, optimis, cemas, gelisah, panik antisipasi, harapan).
Bernapas dengan sadar, membantu perhatian kita menjadi lebih murni dan hadir di sini-kini, dan melonggarkan racun kenangan dan khayalan tersebut, sehingga kita bisa hidup lebih utuh dan nyata.
Bernapas juga bagaikan menekan tombol RESET pada sistem tubuh, pikiran, rasa dan jiwa kita. Sebagaimana komputer yang sedang hang, bernapas mengembalikan posisi NOL pada setiap sistem informasi dalam diri kita.

(dikutip dari rezagunawan.com)

Semoga bermanfaat…

Theme: Banana Smoothie. Blog at WordPress.com.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.