Puput’s Blog

June 19, 2009

Putih = Cantik??

Filed under: Uncategorized — Tags: , , , , , , — puput22 @ 3:50 am

Beberapa waktu lalu, saya kedatangan si bencek, sahabat saya dari Surabaya yang tengah on the job training di Jakarta. Senang sekali rasanya karena akhirnya saya bisa melepas rindu dengan dia. Namun, alangkah terkejutnya saya ketika mendapati ada berbagai macam produk perawatan skin whitening (pemutih kulit) yang tergeletak di meja rias hotelnya.

“Buset, segitu obsesinya banget sih untuk jadi putih??” begitu pikir saya. Namun si bencek membela diri dengan mengatakan bahwa semua tetek bengek perawatan yang ribet itu rela ia lakukan agar kulitnya terlihat “cling”. Katanya, ada rasa kepuasan tersendiri yang ia dapatkan jika dia terlihat putih. Dia bahkan mengkritik penampilan saya yang terlihat hitam.

Yah, si bencek memang tidak bisa disalahkan. Setiap orang berhak untuk mempunyai opini dan cara tersendiri untuk meningkatkan rasa percaya dirinya dengan menjadi putih. Putih memang nampaknya sudah menjadi obsesi sebagian besar wanita Indonesia, termasuk saya dulu. Ya betul, dulu saya akui bahwa memang saya telah terobsesi untuk menjadi putih. Hal itu terjadi karena ketika saya duduk di bangku SMA, ada pressure dari lingkungan dan peer saya untuk menjadi putih.  Akan tetapi, tak dapat dipungkiri bahwa propaganda dari media lah yang memiliki peran paling besar untuk membentuk mind set saya dan para wanita lainnya untuk menjadi putih.

Putih = cantik

Putih = lebih menarik

Putih = lebih ampun untuk menarik hati pria

Lah, terus pa kabar dong dengan wanita Indonesia seperti saya yang rata-rata memiliki kulit sawo matang? Akhirnya berlomba-lombalah para wanita itu untuk menjadi putih dengan mencoba berbagai produk skin whitening yang menjamur di pasaran. Saya sendiri itu kala itu pun tak ketinggalan untuk mencoba salah satu merek Cina yang menyebut dirinya sebagai produk ter-ampuh untuk membuat kulit putih dalam waktu yang singkat. Untungnya, hasilnya tidak terlalu mengecewakan. Kulit saya terlihat lebih “terang” dan tak disangka, jerawat  pun mulai berkurang. Saya merasa bersyukur bahwa produk itu tidak berdampak negatif bagi kulit saya. Saya pun akhirnya melanjutkan pemakaiannya hingga kuliah. Akan tetapi di kala saya memasuki usia 20-an, saya mulai merasa bahwa hal tersebut tidak dibutuhkan lagi. Saya mulai mencintai diri saya apa adanya, termasuk kulit saya yang semakin menghitam karena aktivitas luar ruangan yang seringkali saya lakukan. Saya merasa bahwa hal yang penting bukanlah kulit yang putih, tapi kulit yang bersih. Selama kulitnya masih bisa terlihat bersih, tidak kucel dan bluwek dengan bantuan sebuah bedak, maka cukuplah perawatan kulit yang saya lakukan tanpa harus memakai lagi segala macam produk skin whitening itu.

Saat ini, saya merasa beruntung karena saya sudah menghentikan pemakaian produk skin whitening itu karena maraknya pemberitaan mengenai dampak negatif dari produk-produk tersebut. Kanker kulit, kulit memerah, dan kulit terkelupas hanyalah sekelumit dari tumpukan masalah yang disebabkan oleh produk pemutih itu. Gambar-gambar wanita dengan kulit yang rusak dan menyeramkan yang dengan gamblangnya ditampilkan di TV pun akhirnya membuat saya semakin “ngeri” untuk mencoba-coba produk itu lagi. Yah, saya tidak mengatakan bahwa keinginan menjadi putih itu jelek, karena hal tersebut  pada akhirnya kembali pada masing-masing individu. Akan tetapi, alangkah baiknya jika kita semua bisa menerima dan mencintai diri kita apa adanya. Ingin menjadi putih sah-sah saja, tapi jangan sampai menjadi obsesi yang akan merugikan diri sendiri pada akhirnya. Media pun seharusnya mendukung hal ini dan mencontoh marketing communication yang dilakukan oleh Benetton dan The Body Shop yang menekankan pentingnya bagi wanita untuk menerima diri sendiri apa adanya karena setiap individu itu unik, dan setiap wanita itu cantik.

Saran saja nih buat salah satu produk pemutih, jangan hanya mempropaganda tagline “Bening Merona”, tapi kalau bisa, propagandakanlah juga tagline “Hitam mempesona”. Hal tersebut juga masih bisa menjadi Unique Selling Point kan? Jadi positioningnya bukan hanya membuat kulit lebih putih, tapi membuat kulit lebih bersih, sehingga wanita-wanita Indonesia yang berkulit hitam ataupun sawo matang tidak lagi memiliki obsesi berlebihan untuk memiliki kulit yang putih agar dianggap cantik. Apapun warna kulitnya, “wajahmu tetap bisa mengalihkan duniaku kan?” = p

Cheers,

-Puput-

Aku Ingin Kamu Cepat Pulang

Filed under: Uncategorized — puput22 @ 3:27 am

Aku Ingin Kamu Cepat Pulang..

Aku hanya ingin kamu cepat pulang..

kembali ke rumah

tempat di mana kamu merasa nyaman

dan aku merasa aman..

I want you to come home

I want you to come home

Aku posesif, aku obsesif, aku bawel

itulah protes yang sering kamu lancarkan..

Tapi..

Tahukah kamu..

Mengertikah kamu..

bahwa..

Aku hanya ingin kamu cepat pulang

meninggalkan semua rutinitas dan kegilaan itu

agar aku bisa kembali memilikimu secara utuh

mendengarkan suaramu dengan damai

merasa tenang karena kamu sudah tak bergulat lagi dengan kepenatan

dan menduakan aku dengan rutinitas dan godaan lain yang mungkin datang

Cinta adalah pengertian

dan aku adalah wanita yang ingin dimengerti

Jadi, kumohon agar kamu mengerti

bahwa aku ingin kamu cepat pulang

dan memahami dengan pasti

bahwa ada seseorang yang menunggu kamu pulang

disini..

June 18, 2009

Hadiah Untuk Mama

Filed under: Uncategorized — Tags: , , , , , — puput22 @ 4:29 am

“Just because she’s my mother,I’m supposed to love her. oK, she’s the one who gave birth, but that’s her choice not mine. Why should you love someone who gave birth to you as if you’re supposed to be thankful that she brought you in this world. What’s the point if you live in eternal boredom you should’nt have been born at all.” (Novita Estiti dalam Novel “Subject:RE”)

Bukan seperti kutipan dari novel di atas
Aku mencintai ibuku tidak terpaksa
Karena kasih dan sayangnya yang aku rasakan tulus
Bagai air yang mengalir dari hulu ke hilir
Bak bentangan langit biru yang setia menaungi bumi
Dan bagai siang dan malam yang terus menyapa dunia
Tanpa pernah ada pamrihnya


My love for her comes naturally

Meski terkadang lidah ini berkata penuh cela
Dan menggoreskan sebentuk luka di hatinya
Bahkan menggenangkan air mata dari pelupuk matanya yang suci
Maaf…
Hanya itu kata yang bisa aku sampaikan untuknya
Karena ketika setan telah menguasai pikiranku
Cuma tindakan penuh nista yang tersisa


My love for her comes naturally

Karena setiap tetes keringatnya yang menganak sungai
Tak pernah dia pedulikan
‘Tuk mengumpulkan sesuap nasi untuk benih-benihnya tercinta
Kagum…
Adalah perasaanku yang terdalam untuknya
Karena perjuangannya yang begitu hebat
Dalam menjalani hidup yang penuh dengan riak ini
Dan aku tidak pernah merasa menyesal dilahirkan ke dunia ini olehnya
Karena aku BANGGA memiliki ibu seperti dia
Happy 42nd Birthday Mom….

Nb: Nggak sengaja nemu tulisan ini di kompie gw, btw, nyokap gw sekarang ud 45 tahun lho, masih muda yah,, hehe..

June 11, 2009

Reuni itu

Filed under: Uncategorized — Tags: , , , , , — puput22 @ 6:16 am

Tak lekang oleh waktu. Itulah kalimat yang bisa menggambarkan persahabatan saya dengan Finna, sahabat yang telah saya kenal dari jaman TK, saat saya masih culun (sampai sekarang mungkin, hehe..) dan masih endut banget. Banyak memori tak terlupakan yang saya lalui bersama dia. Salah satunya adalah saat dia ikut membela saat saya berantem dengan salah satu teman yg selalu menganggu saya saat saya duduk di kelas 5 SD. Saya ingat sekali, betapa berapi-apinya dia saat membela saya di kala itu. Duh, benar-benar sosok teman sejati deh..

My beloved one

My beloved one

Dia adalah sahabat terlama dan terawet saya. Dan walopun kita cuma satu sekolah pas TK dan SD doang, tapi sampe sekarang persahabatan kita masih awet. Komunikasi terus berjalan lewat media telepon maupun sms (walopun kita terkadang ketemu cuma 2-3 kali setahun).

Kita bagaikan Yin dan Yang, beda banget, tapi saling melengkapi. Dia lebih kalem, pendiam, dan mampu mengontrol emosi, sementara saya lebih ekspresif, dan lebih emosional. Dia lebih feminin, saya tomboy. Dia mempunyai tingkat sosial yang tinggi, sementara saya sangat materialis. Dia suka ngaji, sementara saya suka nyanyi =p. Dia sudah memakai hijab (berjilbab) dan bertransformasi menjadi sesosok muslimah sejati, sementara saya masih gini-gini aja, hehe..Tapi, itulah indahnya persahabatan, kita malah menghargai perbedaan yang ada di antara kita. Dia tak pernah memaksa saya untuk menjadi seperti dia, dan saya pun demikian. Saya hanya berharap bahwa suatu saat saya pun merintis jalan menuju arah yang lebih baik (dalam hal religi) seperti hal nya dia. Amin.

Kemarin, 4 Juni 2009, adalah hari ultahnya, dan saya pun berinisiatif untuk memberikan surprise dengan pergi ke rumahnya. Puji syukur, surprise nya berjalan sukses dan kami pun melepas kangen dengan saling berbagi kisah dan kabar. Reuni sore itu pun diakhiri dengan makan bareng di salah satu restoran Jepang cepat saji.

Bahagia rasanya bisa kembali bertemu dengan dia. Rasanya seperti pulang ke rumah, aman dan nyaman. Walaupun saya dan dia jarang bertemu, tapi saya merasa bahwa dia adalah sosok yang tak akan pernah pergi dan akan selalu berada di hati saya.

Thanks for all the support Na..I love u.

Theme: Banana Smoothie. Blog at WordPress.com.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.