Beberapa waktu lalu, saya kedatangan si bencek, sahabat saya dari Surabaya yang tengah on the job training di Jakarta. Senang sekali rasanya karena akhirnya saya bisa melepas rindu dengan dia. Namun, alangkah terkejutnya saya ketika mendapati ada berbagai macam produk perawatan skin whitening (pemutih kulit) yang tergeletak di meja rias hotelnya.
“Buset, segitu obsesinya banget sih untuk jadi putih??” begitu pikir saya. Namun si bencek membela diri dengan mengatakan bahwa semua tetek bengek perawatan yang ribet itu rela ia lakukan agar kulitnya terlihat “cling”. Katanya, ada rasa kepuasan tersendiri yang ia dapatkan jika dia terlihat putih. Dia bahkan mengkritik penampilan saya yang terlihat hitam.
Yah, si bencek memang tidak bisa disalahkan. Setiap orang berhak untuk mempunyai opini dan cara tersendiri untuk meningkatkan rasa percaya dirinya dengan menjadi putih. Putih memang nampaknya sudah menjadi obsesi sebagian besar wanita Indonesia, termasuk saya dulu. Ya betul, dulu saya akui bahwa memang saya telah terobsesi untuk menjadi putih. Hal itu terjadi karena ketika saya duduk di bangku SMA, ada pressure dari lingkungan dan peer saya untuk menjadi putih. Akan tetapi, tak dapat dipungkiri bahwa propaganda dari media lah yang memiliki peran paling besar untuk membentuk mind set saya dan para wanita lainnya untuk menjadi putih.
Putih = cantik
Putih = lebih menarik
Putih = lebih ampun untuk menarik hati pria
Lah, terus pa kabar dong dengan wanita Indonesia seperti saya yang rata-rata memiliki kulit sawo matang? Akhirnya berlomba-lombalah para wanita itu untuk menjadi putih dengan mencoba berbagai produk skin whitening yang menjamur di pasaran. Saya sendiri itu kala itu pun tak ketinggalan untuk mencoba salah satu merek Cina yang menyebut dirinya sebagai produk ter-ampuh untuk membuat kulit putih dalam waktu yang singkat. Untungnya, hasilnya tidak terlalu mengecewakan. Kulit saya terlihat lebih “terang” dan tak disangka, jerawat pun mulai berkurang. Saya merasa bersyukur bahwa produk itu tidak berdampak negatif bagi kulit saya. Saya pun akhirnya melanjutkan pemakaiannya hingga kuliah. Akan tetapi di kala saya memasuki usia 20-an, saya mulai merasa bahwa hal tersebut tidak dibutuhkan lagi. Saya mulai mencintai diri saya apa adanya, termasuk kulit saya yang semakin menghitam karena aktivitas luar ruangan yang seringkali saya lakukan. Saya merasa bahwa hal yang penting bukanlah kulit yang putih, tapi kulit yang bersih. Selama kulitnya masih bisa terlihat bersih, tidak kucel dan bluwek dengan bantuan sebuah bedak, maka cukuplah perawatan kulit yang saya lakukan tanpa harus memakai lagi segala macam produk skin whitening itu.
Saat ini, saya merasa beruntung karena saya sudah menghentikan pemakaian produk skin whitening itu karena maraknya pemberitaan mengenai dampak negatif dari produk-produk tersebut. Kanker kulit, kulit memerah, dan kulit terkelupas hanyalah sekelumit dari tumpukan masalah yang disebabkan oleh produk pemutih itu. Gambar-gambar wanita dengan kulit yang rusak dan menyeramkan yang dengan gamblangnya ditampilkan di TV pun akhirnya membuat saya semakin “ngeri” untuk mencoba-coba produk itu lagi. Yah, saya tidak mengatakan bahwa keinginan menjadi putih itu jelek, karena hal tersebut pada akhirnya kembali pada masing-masing individu. Akan tetapi, alangkah baiknya jika kita semua bisa menerima dan mencintai diri kita apa adanya. Ingin menjadi putih sah-sah saja, tapi jangan sampai menjadi obsesi yang akan merugikan diri sendiri pada akhirnya. Media pun seharusnya mendukung hal ini dan mencontoh marketing communication yang dilakukan oleh Benetton dan The Body Shop yang menekankan pentingnya bagi wanita untuk menerima diri sendiri apa adanya karena setiap individu itu unik, dan setiap wanita itu cantik.
Saran saja nih buat salah satu produk pemutih, jangan hanya mempropaganda tagline “Bening Merona”, tapi kalau bisa, propagandakanlah juga tagline “Hitam mempesona”. Hal tersebut juga masih bisa menjadi Unique Selling Point kan? Jadi positioningnya bukan hanya membuat kulit lebih putih, tapi membuat kulit lebih bersih, sehingga wanita-wanita Indonesia yang berkulit hitam ataupun sawo matang tidak lagi memiliki obsesi berlebihan untuk memiliki kulit yang putih agar dianggap cantik. Apapun warna kulitnya, “wajahmu tetap bisa mengalihkan duniaku kan?” = p
Cheers,
-Puput-
huahahahahaaa…sial ncek, kirain ttg apaan??
eh tp btw anw busway, ak udah gk segitunya juga lhoh..just start the day with a moisturizer, followed by sunblock (it does important!), then the loose powder and I’m ready to go! Plus a natural lipstick of course..hehe..
Wah ini bisa jadi bahan blog aku selanjutnya nihh..haha..
Comment by elvitria — February 17, 2010 @ 1:30 am
produk apa yang paling bagus digunakan sebagai pemutih kulit ?
Comment by kosmetik — February 2, 2011 @ 3:53 am