Janji menjemput, janji menemani, janji makan malam, janji jalan-jalan, janji memenuhi klausul kontrak, janji membayar utang, janji memberi piutang, janji kawin bahkan janji sehidup-sematipun (apalagi yang terakhir ini) semuanya hanya janji. Tidak ada yang pernah tahu apa yang akan terjadi dan bagaimana untuk memenuhinya nanti. Semuanya hanya upaya untuk menyuntikkan semacam obat bius lokal pada tubuh yang kesakitan akibat ‘tergores’ oleh ketidakpastian agar tidak terlalu terasa sakitnya, perihnya. (Prolog Marcell Siahaan dalam salah satu postingan di blog pribadinya)
Kemarin pagi tiba-tiba si bencek, sahabat gw yg berdomosili di Surabaya, meng-sms gw dan nanya:
Bencek: “Put, kamu setuju nggak dengan pernyataan: Feelings gone in a year, what left is a commitment.” Suddenly, it has surprised me up. Gw pikir, kenapa sih nih anak, tiba-tiba kok nanya gini?
Trus gw jawab: “Ya kalo menurut gw sih itu hanyalah sebuah pernyataan dari seseorang yg mengalami kegagalan dalam hubungannya. Coba aja kamu lihat pasangan Widyawati-Sophan Sophian kan, toh mereka tetep bisa menjaga hubungan cinta mereka sampai akhir hayat.”
Commitment? R u ready?
Tapi setelah itu gw pikir, yah, kasus Sophan-Widyawati itu kan mungkin hanya secuplik aja dari setumpuk gunung es kisah rumah tangga yang berakhir bahagia. Banyak juga dari mereka yang akhirnya tetap bertahan di pernikahannya hanya dengan alasan “untuk menjaga komitmen” yang sudah diucapkan sebelumnya, tanpa ada perasaan cinta lagi terhadap pasangannya. Duh, ironis banget ya. Mending kayak pasangan Dewi Lestari-Marcell yang akhirnya memutuskan untuk berpisah baik-baik setelah “rasa” itu sudah tidak ada di mereka.
Kutipan pendapat Marcell yang gw tulis di atas mungkin ada benarnya juga, walaupun gw nggak sepenuhnya setuju dengan pernyataannya. Ketika kita memutuskan untuk berkomitmen, misalnya ketika kita memutuskan untuk berkomitmen untuk berpacaran, menikah, menjadi anggota organisasi tertentu, atau apapun itu, kita semestinya memang sudah tahu apa konsekuensi dari apa yang telah lakukan. Mengapa? Karena dalam komitmen itu tertera norma-norma tidak tertulis yang harus kita patuhi. Hal ini seperti buah simalakama, komitmen dapat menjadi sebuah belenggu untuk melakukan apa yang kita mau, tapi bisa juga diartikan sebagai wujud tanggung jawab kita terhadap apa yang sedang kita jalani.
Misalnya saja, ketika kita berkomitmen untuk menikah dengan seseorang. Ada norma-norma tidak tertulis di antara pasangan tersebut yang harus dipatuhi. Salah satunya adalah tidak boleh menyelingkuhi pasangannya. Masalahnya, yang namanya perasaan itu kadang nggak bisa dibendung. Terkadang, tiba-tiba kita suka ngerasa kalo adaaaa aja orang yang lebih baik dari pasangan kita, dan tergoda untuk melakukan hal yang melanggar komitmen tadi. Nah, dengan adanya komitmen, itu bisa “mengerem” kita untuk melakukan hal-hal tadi dan membawa kita kembali ke jalur yang benar. Seperti apa yang dibilang tokoh Agus sama tokoh Lani di Film “Jomblo” (gw gak pernah bosen nonton film ini walaupun udah berapa kali diputer di TV) pas si Agus mau mutusin Lani:
Agus: “Lan, aku tahu kamu tuh lebih, lebih baik, tapi kalo aku terus nyari yang lebih baik lagi, nanti suatu saat aku juga bakal ninggalin kamu.”
See, he realizes about how important to keep the commitment that he has said. Tolong ya catat itu bagi para cowok-cowok yang suka selingkuh, huh..!! =p.
Intinya, menurut gw sih, di dunia ini memang tidak ada yang pasti selain ketidakpastian itu sendiri. Kita nggak tahu kapan kita akan mati, kita nggak tahu apa yang terjadi pada kita dalam sehari, seminggu, sebulan, setahun, ataupun 20 tahun lagi. Dan menurut gw, komitmen bukan hanya upaya untuk menyuntikkan semacam obat bius lokal pada tubuh yang kesakitan akibat ‘tergores’ oleh ketidakpastian agar tidak terlalu terasa sakitnya, perihnya. Tapi komitmen adalah wujud tanggung jawab terhadap apa yang telah kita katakan dan perbuat. Komitmen adalah sarana agar kita bisa punya pedoman, pegangan yang bisa dijadikan acuan dalam hidup, dan untuk menjaga kita agar tetap berada di track yang tepat.
-puput 040209-