film yg bisa bikin gw nangis selain Lion King
Berat. Itulah kesan yg gw dapatkan setelah menonton film ini. Biasanya setelah menonton film, impresi yg gw harapkan adalah: merasa lega, terhibur, dan sebagai ajang relaksasi pelepas penat di akhir pekan. Akan tetapi, lain halnya ketika gw menonton film yang sarat makna dan pembelajaran ini. Saat gw pulang, yang tersisa di benak gw tuh malah perenungan tentang: “Ya ampun, kok begini banget yah nasib perempuan Indonesia?” Pas sampe rumah pun, kepala gw masih berat karena adegan-adegan kekerasan fisik dan verbal yang dilakukan sama sang suami terhadap istrinya. Jadiii….Peringatan bagi yang mau nonton, tolong jangan ngajak adik/sepupu/anak/keponakan/siapapun yang masih berusia di bawah 17 tahun, karena banyak banget adegan yang “belum layak tonton” bagi mereka yang belum dewasa. Dan dari pengalaman nonton gw kemarin di sebuah Mall di Jakarta Utara, ternyata walaupun ada peringatan dari poster filmnya (kalo nggak salah) yang menyatakan bahwa film ini untuk 17 th plus, tapi tetep aja anak di bawah umur bisa masuk. Hal ini bisa gw deteksi dari suara anak kecil yg tiba2 aja membahana pas filmnya lagi diputar dan pas keluar dari bioskop, ada anak perempuan berusia sekitar 7 tahun yang ikutan keluar juga bareng orangtua. Hadooohh,,tolong deh, film ini tuh, menurut pendapat gw, sama sekali bukan film yg masuk kategori “parental advisory”, karena even though di-advisory sama orangtua pun, adegan-adegan yang ditampilin tuh emang belum sesuai sama umur mereka. Wong gw aja yg wiz berusia di atas 20 ini pun nutup mata saking nggak kuatnya nahan adegan kekerasan fisik dan seksual yang dilakukan sama tokoh sama Syamsudin terhadap tokoh Annisa yang diperankan Revalina di film ini. Jadi, tolong deh buat petugas2 bioskop, terutama mungkin Mbak-mbak dan satpam penjaga karcis, karena mereka adalah gateway para penonton untuk masuk, tolong deh disaring sebisa mungkin mana penonton yang emang udah layak tonton dan mana yang belum…
Key, balik lagi tentang film ini, kalo di-summarize siyh film ini pada intinya bercerita tentang penyalahartian kedudukan perempuan dalam Islam di sebuah ponpes yang terletak di daerah Jawa. Memang sih, orang Jawa itu terkenal sama paham patrilineal yang memang lebih mengedepankan peran lelaki dalam sebuah kultur, beda misalnya sama suku asal gw, Padang yang berpaham matrilineal dimana perempuan justru lebih “dianggap” karena dia dianggap sebagai penerus keturunan dalam sebuah keluarga. Di sini diperlihatkan secara jelas dan lugas bahwa perempuan benar-benar dianggap sebagai warga kelas 2. Memang sih, dalam Islam pun, perempuan tidak boleh menjadi Imam shalat maupun Imam dalam keluarga, tapi bukan berarti lalu hak2nya yang lain (seperti hak untuk mendapatkan ilmu pengetahuan, hak untuk berpendapat, dll) jadi ditindas dong. Islam juga kan nggak ngajarin seperti itu. Seperti katanya Le’ Chudori yang diperankan oleh Oka Antara di film ini,
“bisa diliat di surat Ar-Ruum yang biasa ada disurat undangan pernikahan itu bahwa Allah itu menciptakan lelaki dan perempuan itu secara berpasang-pasangan. Dan bukan berarti bahwa perempuan itu kodratnya lebih rendah daripada lelaki. Mereka justru harus saling menghormati” begitulah intisari dialognya kurang lebih.
Selain itu, film ini juga bercerita tentang makna kebebasan yang bertanggung jawab dan mana yang nggak (miris banget deh ngeliat tokoh Aisyah yang tadinya anak pesantren langsung berubah 180 derajat ketika dia belajar di Jogja). Selain itu, film ini juga bisa jadi ajang pembelajaran buat para guru untuk tidak merasa selalu benar dan mau untuk menjadi lebih open minded dan menerima perbedaan pandangan dengan para muridnya. Soalnya, disini digambarkan pula tentang pola pengajaran “Guru selalu benar, dan jika Guru salah, kembali ke Poin 1” yang diterapkan di Pondok Pesantren. Duh, pokoknya pesan moralnya banyak dan “dalem” banget. Pinter2 kita aja sebagai penonton untuk mencernanya.
Salut 2 jempol buat Hanung Bramantyo yang kalo menurut gw sih, udah berani dan sukses banget bikin film dengan tema seberat ini yang pastinya, jelas akan menuai kontroversi dari banyak pihak yang akan suka maupun nggak suka sama film ini. But, despite dari kekurangan2 yg terdapat dalam film ini, seperti:
- ada bloopers (adegan2 yang kurang masuk akal/nggak jelas), kayak misalnya kok si tokoh Annisa yg pada akhirnya nggak jelas bisa nyelesain kuliahnya atau nggak. Dan kok tiba2 dia bisa dianggap sebagai penulis yg oke, padahal tulisannya baru dimuat sekali di Koran. Ataupun tentang bagaimana cara Le Chudori menghidupi keluarganya ketika dia pindah ke PonPes
- Alur ceritanya turun-naik, turun naik, sehingga ketika gw kira adegannya udah klimaks dan udah menuju ke ending yg berujung penyelesaian, tapi ritme adegannya kok jadi datar lagi, trus naik lagi, sehingga kadang bikin gw jadi rada bosen di ¾ film.
- Etc.
Tapi secara keseluruhan, gw tetap nganggep film ini bagus karena udah sukses banget mengaduk-aduk emosi gw sebagai penonton sampai ikutan terbawa ke dalam ceritanya (gw sampe nangis termehek-mehek dan diliatin dengan tatapan heran oleh cowok gw ketika ada adegan perempuan yang mengaku bahwa dia nggak bisa keluar dari rumah walaupun dia nerima kekerasan fisik dari suaminya karena dia ngerasa bersalah karena nggak punya anak, haduuuh…nggak tahu kenapa air mata gw langsung ngalir pas denger hal kayak gini, krn gw mikir: aduh, kok sebegitu besar ya pengaruh dari kultur yang menomorduakan perempuan sehingga si tokoh ini bisa merasa menjadi submarginal seperti itu…sediihhhh banget dengernya, trus gw nengok ke arah laki gw dan nanya: “Kalo tar aku nggak bisa punya anak, kamu bakal gimana sama aku?” dan dia dengan wisely nya menjawab: “Nggak apa-apa, kita kan berusaha. Berusaha itu kan artinya nanti kita bisa adopsi anak yg lucu-lucu juga..” To twiiittt yahh…he3..).
Akting pemain2nya juga bagus, terutama akting Revalina (gw gak nyangka aktingnya bisa keren banget gitu, natural, masuk banget ke dalam karakternya) dan aktingnya Syamsudin (yang diperankan sama Reza Rahardian), sumpah, itu juga baguuus banget, soalnya bisa bikin gw sampe gregetan dan sebell banget sama si tokoh Syamsudin yg antagonis (terutama pas adegan dia maksa istri keduanya yang lagi hamil untuk ngelayanin hasrat seksual dia), salut 2 jempol deh buat kalian berdua, semoga bisa diganjar penghargaan yg pantes yah..Citra kalo bisa..amiinnn ^_^
Last, himbauan buat yg nonton film ini, jangan punya prasangka buruk dulu sebelum nonton film yang mengangkat judul “Perempuan Berkalung Sorban” sebagai simbolisasi wujud dominasi kaum pria (yg disimbolkan oleh sorban yg biasa dipakai laki2), terhadap wanita ini. Buang jauh2 semua rasa antipati terhadap film ini kalo udah denger rumors negative yang ada, nonton filmnya dulu sampe abis, tangkap bener-bener pesannya, dan ambil pelajaran dari hal baik maupun hal buruk yang ditampilkan disini, okeyh..Selamat menonton!