Puput’s Blog

February 11, 2009

Starbucks oh Starbucks, the Best Example of Experiential Marketing

The Ndeso goes to Starbucks…Itu kali yah tema yang pas untuk menggambarkan insiden ketika gw dan cumumu “bertandang” ke Starbucks, sebuah kedai kopi mumpuni yg terkenal di seluruh negeri.

Jujur, kita berdua tuh sama sekali belum pernah ke Starbucks sebelumnya. Kalo gw sih jelas alasannya karena “sayang duit man, masak untuk segelas kopi aja gw harus mengeluarkan 30ribu sih?” Well, gw emang tipe konsumen yang memperhatikan banget value for money, jadi gw pengen mengeluarkan uang yg menurut gw sebanding dengan bukan hanya dengan manfaat atau core benefit nya, tapi gw juga sebagai konsumen mengharapkan ada value added di samping itu.

Soo...tempting..

Soo...tempting..

Tapiiiii…dikarenakan oleh lokasi Starbucks yang tepat berada di lantai dasar gedung tempat gw berkantor sekarang, akhirnya godaan untuk merasakan experience minum di Starbuck pun datang. (Secara setiap pagi, gw pasti melewati kedai kopi terkenal itu.). Akhirnya suatu pagi, gw berencana untuk mampir ke sana sama si Cumumu untuk merasakan experience “ngopi-pagi-pagi-santai dan berkelas” disana.

Skenario 1: Sayup-sayup suara musik jazz yang terdengar dari dalam udah semakin menggoda iman kita untuk mampir kesana

Skenario 2: Akhirnya kita berdua pun nggak tahan dan menetapkan niat untuk benar-benar melaksanakan rencana kita untuk mampir kesana.

Skenario 3: Sampai depan kasir, plenga-plengo, bingung, “pesen apa yah?” “kok harganya mahal semua?”. (Udah tahu sih mahal, tapi tetap aja takjub ngeliat deretan daftar harga yang tertera, yg menurut kita kok nggak sebanding sama apa yang didapatkan).

Skenario 4: Mulai gelisah, ragu-ragu dan lirak-lirik. Sampai akhirnya pupil mata gw menemukan tulisan: “Expresso Macchiatto” – 17ribu. “Wah, itu yang paling murah” gw teriak kegirangan. (Yah, emang sih gw pernah dibeliin starbucks sama kantor waktu itu, tapi kan yang beliin OB nya, gw cuman mengamini aja, waktu itu dibeliin Caramel Macchiatto kalo nggak salah). Tapi begitu liat ada yg lebih murah, gw langsung heboh. “Pi, beli yg itu aja”…

Skenario 5: Pesanan kita, “Expresso Macchiatto” datang

Skenario 6: Terkejut, hampir pingsan malah. ”Haaahhh,,, kok gelasnya kecil mungil tiny winy bity banget yah?”. Asli, gw dan si cumumu terkejut 180 derajat. “Nih, kagak salah nih, bayar 17 ribu gelasnya kecil kayak gelas bayi gini doang?” Mayday, mayday, telah terjadi service gap disini. — Service Gap terjadi ketika expected value (apa yang konsumer harapkan) tidak sesuai dengan perceived value.

Skenario 7: Pasrah, dan akhirnya membawa pesanan kita ke sofa-coklat-yang-kelihatan nyaman yg telah disiapkan disana.

Skenario 8: Pas nyicipin kopinya, hueeekkk…ternyata pahit banget jo

Skenario 9: Pasrah, dan pura-pura menikmati kopi sambil ngobrol-ngobrol santai dan baca-baca majalah yang disediakan

Skenario 10: Menyesali nasib.

Wah, pasti yang baca tulisan gw sampe sini langsung tertawa termehek-mehek dan mereka yang udah sering “ngupi-ngupi” di starbucks pasti bilang: “dodol banget sih nih anak, udah tahu namanya expresso, ya pasti pahit lah…” Well, I’m sorry, but I really don’t know about this, and if knew this before, I won’t order it, for sure..(sighs)..

Nasi udah jadi mie ayam, “insiden starbucks” gw emang udah nggak bisa dirubah lagi. Tapi, bukan berarti hal itu jadi merubah image gw tentang Starbucks yang menurut gw adalah salah satu kedai kopi yg punya brand positioning yang udah kuat banget, punya kesan elegan, gaul, untuk socialite, dan bergengsi. Karena menurut gw, itu adalah karena kesalahan gw sebagai konsumen. Intinya, akhirnya gw bisa juga merasakan pengalaman untuk ngopi-ngopi di kedai franchise ternama ini. Gw bisa juga merasakan prestise karena bisa berada disana, menikmati suasana pagi yang classy, nyaman, dan menenangkan bersama Cumumu dan ditemani oleh musik-musik jazzy yg relaxing. Emang bener, ambience disana emang enak banget dan menyadarkan gw bahwa orang-orang marketing emang nggak salah kalo bilang bahwa Starbucks adalah the Best Example of Experiental Marketing.

Untuk yang belum tahu apa itu experiental marketing, bacalah penjelasan di bawah ini:

“Experiential marketing is a commercial strategy that sometimes complements or even replaces conventional media/print marketing. It attempts to captivate all five senses (touch, taste, smell, sight, sound) to form a comprehensive and memorable experience”

Tujuannya adalah di bawah ini:
“The purpose of experiential marketing is to foster a connection between the individual and the brand. Experiential marketing creates feelings and emotions. People do not purchase simply because they need the good, but rather to feel the experience of using the product”Jadi pada dasarnya, orang datang ke Starbucks dan rela untuk membayar sampai puluhan ribu untuk secangkir kopi itu bukan hanya untuk mendapatkan produknya (kopi), tapi juga untuk merasakan pengalaman ketika meminum kopi tersebut. Not only for buying a cup of coffee, but also to buy the experience, buy the services, buy the relaxing ambience, buy the prestige feelings, buy the cozy and comfortable sofa, and also buy the smile and hospitality from the barrista. Dan karena itulah, para konsumen biasanya balik lagi ke tempat mereka dan akhirnya jadi customer loyal.

Unfortunately, their strategy isn’t work for a type of customer like me. Karena gw pikir, “pay for 30rb only for a cup of coffee isn’t worth it at all”. I can pay for another more valuable things with that amount of money. Emang sih, gw bisa merasakan hal-hal yg gw tulis di paragraph sebelumnya, yaitu misalnya keramahan pelayanan dan tempat yg nyaman. Tapi bagi gw, kalo misalnya gw minum kopi di dunkin donat ataupun di kedai kopi kecil di belakang kantor gw itu juga udah nyaman kok. I don’t really need those premium services and prestige feelings to indulge my self. Yang menjadi titik tolak ukur bagi gw adalah lebih ke kualitas produknya. Walaupun memang sih, cara berpikir gw yg seperti ini nggak berlaku di semua produk. Karena kalo menurut gw, bayar mahal hanya untuk minum kopi itu bisa aja nggak worth it, tapi kalo bayar rada mahal untuk “having a dinner in such a cozy and romantic place surrounded by the view of the mountain” itu mungkin gw mau. Karena menurut gw, disana gw bisa mendapatkan suasana yg “lebih” dibanding hanya terkungkung dalam sebuah kedai berukuran medium hanya untuk menikmati secangkir kopi.

Nggak setuju yah? = p

Theme: Banana Smoothie. Blog at WordPress.com.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.